Selasa, 04 Januari 2011

Belum Cukupkah Dua Puluh Tahun?

Renungan bertambahnya umur yang kutulis setahun yang lalu.

Belum cukupkah dua puluh tahun? Itu adalah pertanyaan yang akan segera menjadi penghias di dinding kamar ataupun di halaman-halaman buku agendaku. Sebuah pertanyaan yang sangat bermakna, bagiku. Saat ini dalam pikiranku, pertanyaan itu akan membangkitkan semangatku untuk terus bergerak tanpa ada lagi kata yang bernama malas. Semoga saja apa yang aku pikirkan ini benar-benar dapat terwujudkan dan tidak hanya jadi angan belaka.

Setiap orang punya kalimat atau quote yang berarti bagi dirinya, baik untuk penyemangat maupun untuk sekedar penyejuk hati. Dimulai dari orang sukses sampai kepada seorang siswa yang baru akan beranjak menjadi orang sukses. Dimulai dari kata-kata yang bermakna bagi dunia sampai kepada kata-kata yang mengandung makna cinta, tentu saja mengandung kalimat yang romantis. Misalnya saja bung Karno. Di dinding kamarnya ditulis “ berikan padaku 10 orang pemuda maka aku akan mendirikan sebuah bangsa” lebih kurang seprti itu karna aku lupa redaksi sebenarnya. Begitu juga dengan salah seorang temanku yang selalu menjadi jawara semasa MTsN dulu. Ia menuliskan kalimat penyemangatnya di facebook miliknya. Aku juga lupa susunan kalimat sebenarnya, hanya saja kalau tidak salah, maknanya adalah dia akan menjadi agen perubahan bagi bangsa ini meski seorang diri. Hari ini, temanku itu merupakan seorang mahasiswa dari perguruan tinggi ternama di tanah jawa, Universitas Gadjah Mada.

Belum cukupkah dua puluh tahun?

Sekarang saatnya bagiku untuk menjadi salah seorang mahasiswa yang akan menjadi agen perubahan bagi bangsa ku tercinta, Indonesia. Telah cukup dua puluh tahun aku menghabiskan umurku untuk sekedar menikmati hidup yang penuh dengan kemalasan. Telah cukup bagiku dua puluh tahun dalam umurku yang aku tidak tahu berapa tahun untuk sekedar berleha-leha menikmati dunia. Semena-mena menikmati umur, begitu kata Ryan, temanku di sastra inggris. Telah aku habiskan umurku dua puluh tahun untuk bermimpi dalam setiap tidurku yang panjang, setiap waktu setiap saat tanpa ada yang dapat aku hasilkan dari semua mimpi yang kadang indah kadang tidak itu. Telah aku habiskan waktuku selama dua puluh tahun untuk sekedar berangan-angan yang terkadang indah jika dituliskan menjadi sebuah cerpen atau novel tanpa ada satupun yang berhasil aku tuliskan. Telah cukup dua puluh tahun aku menjadi majikan bagi diriku sendiri, cita-citaku dan orang tuaku. Ya, aku melakukan apa yang aku mau bukan apa yang seharusnya aku lakukan. Tentu saja hal- hal yang aku lakukan itu hal-hal yang tidak ada hasilnya, padahal aku tahu aku bisa lakukan apa saja yang bermakna jika aku mau melakukannya.

Sekarang saatnya bagiku untuk menjadi budak bagi diriku sendiri. sekarang saatnya bagiku untuk mengabdikan diri pada kebenaran, bukan kemalasan. Sekarang saatnya bagiku untuk bangkit berdiri dan mau melakukan semua hal bermakna yang tentu saja aku bisa membuatnya lebih bermakna. Sekarang saatnya bagiku untuk bangun dari tidur panjangku dan mulai merajut mimpi yang selama ini ada menjadi nyata. Sekarang saatnya aku mulai menuliskan cerita dalam anganku yang selama ini tak berharga menjadi sebuah karya sastra. Sekarang saatnya aku mulai melahirkan mimpi-mimpi yang selama ini dikandung oleh agenda-agenda dan diaryku. Sekarang saatnya aku mengejar ketertinggalanku dan mendahului sahabat dan teman-temanku. Sekarang saatnya bagiku untuk berdiri dan bersiap untuk berlari mengejar garis finish, kehidupan masa depanku yan cerah secerah cahaya mentari di ufuk timur jendela kamarku.

Sekarang saatnya aku berkata, aku bisa!!!

1 komentar:

  1. Setahun sudah note ini mengisi space di harddiskku, tapi hingga saat ini, aku masih seperti yang dulu. Hufft..
    Innalillah...

    BalasHapus