Tampilkan postingan dengan label Malas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Malas. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Mei 2012

Berkarya Mari Berkarya

Hiks... tak ada yang bisa diposting beberapa hari ini. Tak ada tulisan dan tak ada foto yang bisa dishare. Entah kenapa, tak tergerak untuk menulis dan berkarya. Sudahlah, daripada nggak update, aku upload saja beberapa gambar yang ku download dari Facebook. Semoga gambar-gambar berikut memberi inspirasi untuk kita semua.

Minggu, 15 April 2012

Is there a Devil Lying Beside Us?

So, it’s true then. There is a devil lying beside you if you are one of the students who should write the paper, thesis, or even dissertation to graduate soon. Yeah, it also happen to me (I am not surprise, anyway). Not like others who don’t have much time to write because they have classes or even a work to earn some money, I have plenty of time. And yet I am still let the devil lying so close to me, so it makes me do not have a passion to jot it down. 

People, the success ones, give a deadline to their lives. Well, I have done it, but the deadline is not working for me. Maybe because I don’t get the meaning of ‘deadline’ yet. Wow, more than two years work for the campus newspaper and deal with a word called ‘deadline’ and I said that I don’t understand it yet? Pathetic, isn’t it?
Alright, maybe I really should admit it, the deadline is not working for me because I don’t care about it, or frankly speaking, I don’t care about myself. Huft… it’s going to far now. It should be about the paper, not about me and myself. Well… thanks for reading, guys…
keep smile ^_^

Senin, 26 Maret 2012

Senin yang sama? No way!


Ternyata sekarang sudah Senin lagi. Hah... kalau sedang di kampung memang bikin lupa waktu. Hm... Senin, itu artinya aku harus berangkat ke Padang pagi ini. Hanya saja, nggak ada alasan yang kuat yang memotivasiku untuk berangkat. Tentu saja ada beberapa hal yang sama dengan Senin minggu lalu yang seharusnya me’maksa’ku untuk ke Padang. Tapi tidak, aku nggak mau mengulang kekecewaan Senin minggu lalu.
Senin, 19 Maret 2012, dengan semangat menggebu aku memotivasi diriku untuk berangkat ke Padang pagi-pagi sekali. Aku ada janji untuk sebuah pertemuan yang lumayan penting, seharusnya. Anggap saja aku janji dengan seseorang yang ingin belajar sesuatu dariku. Nah, alasanku ke Padang tentu saja untuk menjawab keprofesionalitasanku dengan motivasi berbagi ilmu yang bermanfaat juga merupakan sedekah jariyah. Sesampai di Padang, semangatku ternyata tak ada gunanya. Orang yang akan kutemui tak bisa hadir dengan alasan masih di kampus. Ah...tak bisakah dia mengirim sms padaku agar aku tak repot-repot datang ke ibukota provinsi ini? Tak tahukah dia aku ke Padang hanya untuk menemuinya? /(*_*)\
Satu target hari itu gagal. Aku jadi tak punya alasan lagi untuk bertahan di kota bengkuang itu. Setelah berkunjung sejenak ke pustaka, aku putuskan untuk pulang kampung lagi. Namun tentu saja aku harus singgah dulu ke wisma, kosanku tercinta. Setelah salam dan bercengkrama, ternyata sudah sore saja. Aku jadi bimbang untuk pulang. Sudahlah, aku bertahan saja di sini dulu. Lagipula, nanti malam ada kultum. Aku kangen berkumpul dengan semua anggota wisma dan aku ingin lihat apakah wejangan pedasku seminggu lalu ada gunanya atau tidak.
Ternyata, target itu gagal lagi. Untuk pertama kalinya (kurasa)dalam sejarah kehidupanku di wisma, kultum ditiadakan karna permintaan adik-adik yang besok ujian UTS. What??? UTS jadi alasan untuk tidak kultum? Wow... dahsyat. Bukankah yang namanya UTS itu jadwalnya nggak pasti? Memang, dari fakultas UTS dijadwalkan seminggu saja, tapi bukankah ada beberapa dosen yang punya jadwal UTS sendiri? Lalu bagaimana kalau ternyata kamis depan masih ada yang UTS? Nggak kultum lagi? Lalu, Senin berikutnya? Ah sudahlah... mungkin yang tidak ada UTS pun ada urusan lain sehingga tidak bisa kultum.
Hari ini, Senin datang lagi. Aku tahu yang namanya kekecewaan tidak boleh berlarut-larut. Aku juga tahu hari ini mungkin lebih baik dari Senin yang gagal itu. Ya, aku tahu, tapi... kenapa harus merepotkan diri, ya kan??!

Dan Azed
Payakumbuh, Senin 26 Maret 2012

Kamis, 08 Maret 2012

Coba Dulu, Pasti Bisa

            Barusan terima sms dari ukhti Yaya. Ada job translate. Wow… disaat waktu yang labil ini, ada tawaran job datang. Huft…terima gak ya? Jadi deg-deg-an.
            Sebenarnya, aku punya banyak waktu luang untuk mengerjakan job ini, namun seperti yang kutuliskan di atas, waktuku sedang labil. Tidak jelas. Saat ini aku masih dalam proses pencarian judul skripshit, ups… skripsi. Nah, untuk mencari judul ini, aku butuh mood yang pas dengan situasi dan kondisi yang mendukung. Jadi, takutnya job ini mengganggu moodku untuk mencari-cari judul tersebut. (dari dulu sudah kucoba cari di bawah bantal, tapi yang namanya judul itu belum kutemukan :p)
            Jasa translate. Hmm… salah satu lowongan pekerjaan untuk mahasiswa jurusanku. Sebelumnya aku sudah sering dapat tawaran dari teman-teman, namun selalu kutolak. Alasannya, tentu saja karna aku punya system mood yang kurang terstruktur. Aku butuh mood yang bagus untuk mengerjakan sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan dan tugas. Ckckck. Parahnya, mood ini sering datang disaat yang tidak tepat, malah seringnya tidak datang. Hehe. So, kalau hanya sebatas tugas kuliahku, aku nggak begitu cemas. Nilaiku, urusanku. Nilai jelek aku yang tanggung malu, nilai bagus aku yang bangga. Nggak merusak hidup orang lain. Kalau pekerjaan, hmm… aku nggak mau main-main dan mempermainkan orang lain. Aku takut saat kuterima job itu, mood bagusku absen terus, keprofesionalanku dipertanyakan. Teman yang mempercayakan jadi kecewa. Habbluminannasku jadi rusak. Wuih… sangat tidak bagus dan aku tak suka itu.

taken from google picture
            Saat ini, tawaran itu datang lagi, di waktu yang sangat labil. Aku jadi nervous stadium akhir. Satu sisi, aku mau mencobanya. Di sisi lain, aku takut system moodku masih belum terstruktur. Hmm… seperti biasa, aku pintar  menyemangati diri sendiri. So, aku katakan pada aku, coba dulu, pasti bisa. (^_*) Kunci dari semua pekerjaan itu adalah, mulai dengan basmalah, kerjakan, maka selesai. (tuh kan aku pintar? :p)
            Okelah kalau begitu. Aku terima job ini. Ukhti Yaya, syukron jazakillah atas tawarannya.

Dan Azed,
New Aspire, 7 Maret 2012

Senin, 14 Februari 2011

Renungan Calon Petani Berjaya


Judul asli: Merenung di pematang sawah yang telah kucangkuli seminggu ini...

Keterangan singkat :) ... Catatan ini kutulis di malam terakhir ujian semesterku di semester 7. Langsung kutulis di akun "bukumuka" dengan mentag teman-teman... Alhamdulillah banyak yang suka dan termotivasi...

Kuawali kisah ini dalam statusku 3 Januari 2011.

"kata guruku di sekolah dulu, energi yang dipakai untuk ujian itu sama dengan energi yang dipakai petani tuk mencangkul di sawah. Hari ini ada 2 ujian, berarti dua petak sawah kucangkuli, tapi satunya take home exam, berarti energinya sama dengan menjemur benih di halaman rumah. hmm... ^_* "


Hari itu adalah hari pertamaku mencangkul sawah, prosesnya tak begitu susah karena untuk sawah yang ini aku tak perlu menyiapkan energi yang terlalu besar. Asal ada hasrat untuk mengayunkan cangkul, sawah yang ini akan menghasilkan padi yang sempurna dimasa panen nanti.


Sayangnya, semakin hari sawah yang harus kucangkuli semakin keras saja tanahnya. Ditambah lagi dengan banyaknya godaan yang membuatku malas mengasah mata cangkulku. Hasilnya, di hari ketiga, ini dia rangkaian kalimat yang mengisi space statusku, Rabu 5 Januari 2011.

"Garapan sawah hari ini kurang baik. Selain karna memang tanahnya keras, cangkulku juga kurang tajam. Tapi, teteup...Harapan itu akan selalu ada. Semoga hasil panennya tetap memuaskan, Amien.."

Status itu benar-benar menggambarkan karakter asliku, damai dengan keadaan, hadapi dengan senyuman, dan dengan penuh keyakinan aku percaya, harapan itu selalu ada.


Hari ini, kamis 6 januari 2011, usahaku mencangkuli sawah terakhir benar-benar parah. Aku tahu, petak sawah yang ini adalah petak sawah yang sangat penting untuk masa depanku menjadi petani berjaya, tapi aku tak pernah mau tahu dengan cangkulku yang benar-benar sudah tumpul matanya. Selain itu aku juga lupa, sawah ini akan menguras banyak energiku yang mulai tak berdaya. Begitu banyak batu yang harus kuhindari saat mencangkul sawah ini. Dengan cangkul yang tumpul dan energi yang tak mengepul, kuayunkan cangkulku dengan terpaksa.


Sayang sekali, ayunan cangkulku mengenai sebuah batu. Ya Allah, cangkulku patah, memantul melukai wajahku. Untunglah, tak mengenai mata dan bibirku. Sehingga, Alhamdulillah aku masih bisa menatap dunia lewat jendela, dan tersenyum padanya. Aku tak langsung pulang ke rumah, kusempatkan diri untuk merenung di pematangnya sembari melihat rekan-rekan seperjuanganku mencangkuli sawah mereka.


Dalam renunganku, aku sesali kelalaianku yang tak perhatian pada cangkulku. Hanya saja, satu hal selalu menggerogoti pikiranku, kapankah sebuah penyesalan itu akan memberi semangat baru untukku? Orang bilang, menyesal kemudian tidak berguna. Bagiku, menyesal tanpa berubah, buang-buang waktu saja. Lalu, karna tak yakinnya aku dengan hasrat untuk berubah, aku pilih untuk tidak menyesal saja. Lets gone be by gone, yang lalu biarlah berlalu. Kucoba menghibur diri dengan pepatah itu tetapi kali ini pepatah itu tak bekerja. Suasana hatiku tetap merana. Merana karena luka di wajahku yang tak begitu indah dan merana memikirkan hasil panen sawah yang begitu berharga ini.


Sawah ini kawan, hasil panennya kan menentukan masa depanku dalam meraih cita tuk menjadi petani berjaya. Sempurnanya panenan sawah yang satu ini akan membuatku mantap untuk terus maju meraih cita. Keberhasilan hasil panen sawah ini juga kan memberiku peluang untuk mendapatkan sawah yang lebih besar untuk 6 bulan berikutnya. Ya Rahmaan... baguskanlah hasil panenku dimusim ini, Amien...


Dalam renunganku, tak kuat rasanya membendung air mata. Ingin sekali kutumpahkan suasana hati ini pada para sahabat di sana. Sayang, mereka juga harus berusaha mencangkul petak sawah yang mereka punya. Aku tak mungkin mengganggu waktu mereka yang berharga. Biarlah, kusimpan sedih di dalam hati, kubungkus duka di dalam jiwa.


Dalam perjalanan pulang, rerumputan membantuku menghilangkan lara. Ia katakan padaku, harapan itu selalu ada. Aku kembali sadar, aku tak hanya punya satu cita. Citaku tak hanya ingin menjadi petani berjaya. Aku punya segudang cita untuk ikut merenovasi dunia. Ku kan tetap berdoa dan tawakal agar tercapainya citaku menjadi petani berjaya, dan ku akan berusaha menggapai mimpi-mimpi selanjutnya dan mulai berkarya.


Setiba di rumah, kuputuskan untuk pergi ke kota untuk mengunjungi toko buku ternama. Kebetulan ada dua sahabat yang telah selesai menggarap sawah mereka, kami ke kota bersama. Kunjungan ini adalah bentuk rasa syukurku karna masih bisa memandang dunia lewat jendelanya dan sebagai cara tuk menyapu bersih jejak duka yang masih tersisa.


Subhanallah, Allah Maha Bijaksana. Di salah satu toko buku ternama, potongan harga sedang marak-maraknya. Tak kusia-siakan kesempatan ini. Aku ambil semua jendela dunia yang akan menerangi jalanku untuk menggapai mimpi selanjutnya.


Semoga semua mimpi dan cita-citaku bisa terwujud menjadi nyata,begitu juga denganmu kawan. Semoga kita semua sukses di dunia dan di kampung akhirat sana, Amien Ya Rabbal Alamin...

Innallaha ma'ana, sesungguhnya Allah selalu bersama kita.


Kawan, terima kasih sudah sudi membaca catatanku yang tak indah dan tak tertata ini. Aku bukan penulis ternama, tapi tak ada salahnya kan, membaca curahan hati seorang teman yang sedang merana? Jika kawan suka, terimakasih yang sebesar-besarnya. Jika kawan bersedia, aku menunggu kritik dan sarannya.


Salam ukhuwah berbalut cinta.


Yaumul Jumu'ah, 7 Januari 2011.

3. 48 am di wismaku tercinta.


Selasa, 04 Januari 2011

bunuh M A L A S

Sudah lama sekali aku mulai menulis diary. Dulunya, mungkin masih sering merangkai kata yang tak seindah karya para pujangga. Sekarang, baik di diary maupun di sini, tidak ada lagi terungkai kata-kata yang berasal dari relung jiwa itu. Semua hal mempunyai akibat. Akibat dari tidak tersampaikannya unek-unek dan perasaan di dalam hati mungkin salah satunya adalah jerawat. Kata orang jerawat itu ada karena cinta terpendam. Kataku, jerawat ada karena isi hati yang terpendam. Isi hati itu tidak hanya berbentuk cinta, tapi juga ada marah, benci, suka, gembira, sedih, dan merana. Aku tahu pasti kenapa tidak ada lagi karya hati yang sempat kutuliskan. Tentu saja jawabannya Cuma 5 huruf. Bukan C I N T A tapi M A L A S. 

Malas, kata yang tak mungkin kuingkari keberadaannya yang masih selalu bersemayam di benakku. Walau sudah tak separah dulu lagi, tapi aku sadar aku masih berhubungan dengan kata berhuruf 5 itu. Sayang, aku sadar tapi aku tidak segera bangun dan bangkit meninggalkan kata itu. Padahal aku juga tahu pasti kata itu adalah inti dari semua permasalahan hidupku. Kata itu membuatku membuang-buang waktuku yang cukup banyak yang seharusnya aku isi dengan segala hal yang bermanfaat untuk akhirat dan duniaku. Kata itu juga membuatku menyia-nyiakan segala kesempatan yang datang menawariku segala kebaikan yang dapat aku petik untuk kehidupanku. Tapi aku berharap, aku bisa membunuh kata itu dan melahirkan serta membesarkan kesuksesan untuk kehidupanku di kampung akhirat dan di dunia yang fana ini.

Yaa Rabb… bantu hamba untuk bisa mengikuti jejak rasul dan para sahabat menjadi orang yang bertakwa kepadamu dan mengisi hari mereka dengan hal berguna, dan akhirnya izinkan hamba berkumpul dengan mereka di surga abadi nanti. Amien ya Rabb………