Tampilkan postingan dengan label Menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menulis. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 April 2012

Is there a Devil Lying Beside Us?

So, it’s true then. There is a devil lying beside you if you are one of the students who should write the paper, thesis, or even dissertation to graduate soon. Yeah, it also happen to me (I am not surprise, anyway). Not like others who don’t have much time to write because they have classes or even a work to earn some money, I have plenty of time. And yet I am still let the devil lying so close to me, so it makes me do not have a passion to jot it down. 

People, the success ones, give a deadline to their lives. Well, I have done it, but the deadline is not working for me. Maybe because I don’t get the meaning of ‘deadline’ yet. Wow, more than two years work for the campus newspaper and deal with a word called ‘deadline’ and I said that I don’t understand it yet? Pathetic, isn’t it?
Alright, maybe I really should admit it, the deadline is not working for me because I don’t care about it, or frankly speaking, I don’t care about myself. Huft… it’s going to far now. It should be about the paper, not about me and myself. Well… thanks for reading, guys…
keep smile ^_^

Selasa, 10 Januari 2012

Having a Golden Time???

Golden time, it always remind me to my reading lecturer, pak I. It doesnt mean that he was the first person who told me about that, I already knew the phrase before he told me so. Only, when he told about this to the whole class, I really familiar with that phrase. I was still worked in Ganto (college newspaper) at that time, so it means that I have to always aware about idea that came to my mind. Unfortunately, the golden time is not always coming in the right time. Thats what pak I told me about.


image source: google image
Its not always coming in the right time, yup, thats what we call golden time. It is a time when you really have many great ideas. About anything. If you are a student, golden time is when you really have many idea to do your project or your assignment, but its not always come when you are studying. If you are a businessman, golden time is when you have many creative ideas about your business, and the time when the ideas coming to your mind is not always when you are in your desk, force yourself to think about your business. No. Golden time appear randomly. If you are a writer, at least have a blog to write, golden time is the time when you really get many ideas to write about. That time is not always appear when you open microsoft word in your computer or open your notebook and get ready to write. (you already get the meaning from the first example, dont you? Hehe, I just want to make this writing a little bit long (^_*)V).

Owh, by the way, We are going to focus in a golden time for the writers.


image source: google image

Of course we get ready to write because we have something to write, more or less we need to write something, but this is not the time we are talking about. Golden time come when we dont have microsoft word in front of our eyes or notebook and we are not in the middle of getting ready to write. The ideas just come to our mind whatever and whenever it is. For instance, when we are going to sleep, our eyes are close but our mind still walking around, suddenly many ideas come. So, its the golden time. 


Another example, (I have said that Id like to make this writing a little longer, right?), when we are waiting for a bus or are in the bus, unexpectedly we get ideas to write. Well, it is the golden time. We should appreciate that time. Really. Trust me its work. Ups,I mean, it is very precious.

Yes, golden time is not coming once in a day, it could come many times because as I wrote, it just come whenever it is. However, the ideas that coming in a golden time will not appear in another time. Thats the point. So, thats why we should appreciate this time. Why? Because golden time is when the ideas come to your mind just in that time. The ideas are very good and it will not coming in another time. So, we have to prepare our self to get golden times and welcoming the ideas that are coming with these times.

How?

image source: google image

Here it is. Make sure we always bring a small notebook and a pen with us. So when we get a golden time we can take a note about the ideas that coming trough. Man is created to forget, and by taking a note directly when the golden time come, we will not forget the ideas. As it is named golden, it is very valuable. The ideas from a golden time will make a good creation, but if we dont write the ideas coming directly, it will really hard to remind it again. Sometimes, it never comes anymore until we see someones creation that conclude the ideas that we lose. By the time, the only thing we could say, huft.. I thought so.
well, lets get ready for up coming golden time, guys...
d(^_^)b

Dan Azed,
Payakumbuh, 00.20 am 
Thursday, January 11, 2012.

Rabu, 20 April 2011

Resensi Emak ingin naik haji

Judul : Emak ingin naik haji

Penulis : Asma Nadia

Penerbit : AsmaNadia Publishing House

Cetakan : Pertama, Agustus 2009

Tebal : 192 halaman

Harga : Rp. 40.000,-

Haji yang merupakan rukun Islam kelima merupakan impian bagi setiap muslim. Sayangnya kunjungan ke baitullah dalam perjalanan religius dengan menanggalkan status sosial dalam masyarakat dan berbaur dengan muslim sedunia dengan pakaian ihram yang sama-sama berwarna putih bersih itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dengan keadaan ekonomi Indonesia yang morat-marit, umat muslim bekerja keras untuk menunaikan panggilan Sang Maha Kuasa ini.

Pengelolaan haji di Indonesia yang ditangani oleh departemen agama tidak selalu mulus seperti yang diberitakan. Kesempatan naik haji bagi yang berstatus ekonomi menengah ke bawah dihadapkan dengan fenomena antrian waktu keberangkatan saking banyaknya umat Islam yang ingin naik haji di negeri ini. Sedangkan bagi yang berkecukupan, dapat melaksanakan haji setiap tahunnya. Hal ini mengundang tanda tanya atas kinerja pengelola haji.

Lain lagi dengan fasilitas yang ditawarkan pengelola haji. Ada tarif naik haji dengan pelayanan yang biasa saja ada yang dengan tarif yang sangat mahal dan fasilitas yang luar biasa.

Cerpen ‘emak ingin naik haji’ merupakan cerpen kritik sosial yang sangat kuat dan relevan, khususnya di tengah situasi dan kondisi bangsa Indonesia yang sudah satu dasawarsa lebih terpuruk namun tiap tahun kita menyaksikan betapa banyak orang yang sudah berhaji masih juga berlomba-lomba untuk memuaskan ambisinya untuk kembali menunaikan ibadah haji.

Inilah yang dikritik keras oleh Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Prof. Dr. KH Mutafa Ali Ya’qub sebagai haji setan atau haji provokator. Yaitu muslim-muslim kaya di negeri ini yang lebih senang mengoleksi gelar haji di kepalanya daripada menancapkan akhlak seorang haji. Haji seperti itu sungguh jauh dari sunnah rasulullah SAW.

Cerpen ini juga menggambarkan bagaimana seorang anak membalas jasa ibu dengan melakukan apapun untuk membantu ibunya untuk meraih impian naik haji.


(Sedianya bakal ditulis untuk Ganto, tapi sayang tak kunjung selesai)

Pemimpin Merangkap Pelayan; Ahmadinejad

Misyafad va mitavonim; itu mungkin, dan bisa kita lakukan, ini adalah jargon yang diusung oleh Mahmoed Ahmadinejad sebelum dirinya terpilih menjadi presiden Iran ke-6. terpilihnya Ahmadinejad sebagai Presiden Republik Islam Iran membawa angin surga bagi rakyat Iran dan membawa bencana bagi negara digdaya, Amerika.

Mahmoed Ahmadinejad lahir pada 28 Oktober 1956, di perkampungan Aradan, wilayah tertinggal yang berjarak 120km dari arah timur kota Teheran. Dilahirkan sebagai anak keempat dari tujh bersaudara dalam keluarga yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai agama mendidik ahmadinejad kecil menjadi anak yang sangat akrab dengan budaya Islam. Selain itu, hidup denga keluarga yang mempunyai masalah ekonomi menunutun Ahmadinejad untuk bersemangat dalam memperjuangkan kehidupan pribadi dan keluarganya. Keterbatasan ekonomi keluarga tidak menghambat Ahmadinejad dalam memenuhi dahaganya akan ilmu. Jenjang demi jenjang pendidikan ia tempuh di Teheran. Sampai kahirnya Ahmadinejad belajar di Iran University of Science and Technology (IUST) dan mendapatkan gelar sarjana dan Master of Science di bidang Teknik Sipil.

Kiprah Ahmadinejad di bidang politik saat dirinya dipilih oleh Musthafa Muin, Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Tinggi dalam kabinet Rafsanjani sebagai penasehat pribadinya. Ia sering memberikan pertimbangan populis bagi sang menteri terutama dalam mengambil setiap kebijakan dan tindakan pemerintahan. Hal ini menjadikan Ahmadinejad sebagai sosok yang mempunyai prestasi di mata Presiden Hashemi Rafsanjani. Kemudian presiden menunjuk Ahmadinejad sebagai Bupati Ardabil. Setelah masa tugas sebagi bupati berakhir, Ahmadinejad kembali dipercaya untuk mengemban tugas sebagai Walikota Teheran. Berbagai persoalan social-budaya kota Teheran dapat ia selesaikan dengan semangat revolusi Iran dan prinsip-prinsip akidah Islam. Hasilnya, panggung politik nasional mulai mengenal sosok Ahmadinejad, terlebih lagi rakyat Teheran yang menilai pemimpin mereka itu sebagai seorang yang sangat mereka cintai dan dikagumi sebagai pribadi yang patriotik.

Amanah sebagai walikota Teheran dilepaskan Ahmadinejad saat mempersiapkan diri mengikuti pemilihan presiden Iran ke-6. usaha politik Ahmadinejad dalam meraih simpati rakyat Iran terbilang sangat jempolan. Melalui kampanyenya Ahmadinejad memaparkan seabrek program populis. Ia punya rencana untuk membangun sebuah tata pemerintahan yang dapat menjadi contoh bagi publik dunia, birokrasi pemerintahan yang tidak korup, menekan jumlah angka kemiskinan di Iran dan membentuk kehidupan rakyat Iran yang memiliki karakter ke-Islaman serta menjunjung tinggi semangat Revolusi Islam Iran 1979.

Sejak terpilih menjadi presiden, rakyat Iran meletakkan harapan-harapan barunya di atas pundak Ahmadinejad, sang pemimpin yang selalu menekankan pada dirinya bahwa posisinya sebagai pemimpin berarti sebagai pelayan bagi seluruh rakyat Republik Islam Iran.

Ps: Pernah dimuat di buletin Rangkiang*

(*3 tahun yang lalu, hehe, sayang kalau hanya mendekam di dokumenku. Kabar terakhir dari seorang ustadz, Ahmadinejad adalah orang syiah. (Wallahu'alam) Saat ini benar-benar nggak update lagi tentang sosok ini)

Sabtu, 16 April 2011

Mahasiswa dan Playstation

Mahasiswa dikenal sebagai the agent of change atau agen perubahan. Begitu banyak perubahan yang tercetus berkat pemikiran-pemikiran mahasiswa. Misalnya saja runtuhnya rezim Soeharto. Saat itu, mahasiswa di seluruh Indonesia bersatu untuk meyuarakan kepentingan rakyat.

Sekarang, mahasiswa masih dianggap sebagai agen perubahan tetapi tidak lagi dengan semangat seperti senior-senior dulunya. Hanya segelintir saja mahasiswa yang peduli dengan keadaan bangsa ini. Yang lainnya kemana? Mereka juga sibuk. Sibuk dengan segala macam permainan yang ditawarkan benda keramat yang bernama play station.

Pertumbuhan rental play station di sekitar kampus semakin menjamur. Tentu saja. Pengusaha rental play station semakin berjaya karena banyaknya mahasiswa yang mengantri untuk mendapatkan giliran “berkencan” dengan play stationnya. Mulai dari pagi hingga dini hari, rental play station tidak akan pernah sepi. Ramai pengunjung yang 90 persennya adalah mahasiswa.

Mereka menghabiskan banyak waktu mereka untuk berperang dalam rental play station tetapi mereka tidak tahu segelintir rekan-rekannya berjuang melawan musuh-musuh nyata bangsa, koruptor misalnya. Mereka bersedia merusak mata mereka dengan terus-menerus menatap layar kaca tanpa pernah menggunakan nikmat tuhan itu untuk memperhatikan kondisi kampus dan negaranya. Mereka mampu merogoh kocek dalam-dalam untuk sekedar memenangkan permainan balap motor dengan berhayal sebagai Valentino Rossi tanpa sekalipun ikut menyumbangkan peluhnya dalam aksi-aksi segelintir rekan-rekannya dalam membangun bangsa.

Pandangan masyarakat kepada mahasiswa sebagai agen perubahan tidak akan berubah dengan adanya mahasiswa-mahasiswa pecandu game ini. Mahasiswa tetap akan menjadi agen perubahan. Hanya saja, bersediakah mereka menyandang nama sebagai mahasiswa tanpa tahu apa yang akan mereka rubah. Bersediakah mereka hanya menjadi mahasiswa tanpa gelar the agent of change. Tidakkah mereka menyayangkan waktu yang terbuang di rental play station itu padahal seharusnya mereka menyiapkan diri menjadi penerus bangsa. Hanya mahasiswa yang bersahabat dengan play station-lah yang bisa menjawabnya. * (Dan Azed)

(* Pernah dimuat di harian Singgalang Edisi Minggu, rubrik Critical U)

Selasa, 12 April 2011

Aktivis Dakwah bertanda kutip

Kok sebagian kader dakwah masih sibuk mendakwahi "kader dakwah" itu sendiri???

Pertanyaan di atas adalah sebuah post di grup FB lembaga dakwah kampus yang membesarkanku, FKPWI. Banyak postingan-postingan sebelumnya yang bagus-bagus dan menarik, tetapi biasanya peranku hanya sebatas "like" saja. Entah kenapa ketika membaca postingan ini hatiku tergerak untuk ikut berkomentar. Berikut komentarku.

Jika pertanyaannya kalimat tanya di atas, maka jawabannya karena kedua kader dakwah yang disebut di atas memang berbeda. Yang satu tidak pakai tanda kutip, yang satu lagi, alias yang didakwahi, pakai tanda kutip.

Mungkin, yang pakai tanda kutip itu adalah orang-orang yang menyandang gelar kader dakwah sebatas gelar saja, teori dan prakteknya gak jalan.



Bergelar sebagai kader dakwah tapi target amalan harian sebagai seorang ADK nggak pernah tercapai. shalat sekedar shalat, kadang lalai juga. Tilawah sekedarnya. hapalan al-quran masih trikul tapi nasyid hapal semua. Shalat tahajud malas, duha nggak sempat, dll.

Bergelar ADK tapi prilaku jahiliyah masih dipertahankan. Sama lawan jenis sesama ADK jaga pandangan, sama teman2 non ADK PDKT, bahkan pacaran. Ada yg menjaga dengan rapi agar nggak ketahuan tapi ada juga yang terang-terangan.

Bergelar ADK tapi halaqoh nggak jalan, ta'limat selalu diabaikan, pengajian2 seperti tarbiyah ruhiyah, tarbiyah tsaqofiyah, dsb tak pernah ikutan. Alasannya, ribuan.

Astagfirulahal'adzim..

Semoga kita termasuk ADK yg nggak pakai tanda kutip.
Semoga ADK yang pakai tanda kutip dibukakan pintu hidayah yang lebih lebar agar bisa melepas tanda kutipnya.
Semoga kita semua istiqomah dan kembali sewajihah di surga dg rasulullah sebagai ketumnya.
Amien..

Wallahu'alam bis shawab.


Selasa, 08 Maret 2011

Award pertama

Wah... sudah mendekati satu bulan award ini dianugerahkan pada blog lokerklasik oleh ukhty Afifah, tapi baru sekarang bisa ditempel di sini.

blogger-award-comunity.jpg (232×299)

terima-kasih-award1.png (320×320)
Alhamdulillah...award ini datang saat sedang semangat-semangatnya men'dekorasi' blog. Keinginan untuk kembali mengotak-atik blog berawal saat nyasar ke salah satu blog teman SMA yang sekarang juga sedang kuliah di Fakultas Kedokteran UNAND, sama seperti ukhty Afifah, selain itu nyasar juga ke blog teman-teman lain yang menginspirasi, ditambah lagi dengan waktu yang mendukung karena sedang liburan. Alhamdulillah semangat itu membuahkan hasil yang memuaskan, award pertama datang. Sayang, waktu liburan habis. Jadilah blog kembali terabaikan.

Sekarang waktunya mensyukuri nikmat Allah ini. Jazakillah untuk ukhty Afifah Amatullah yang sudah berkenan membagi Award ini untuk Dan Azed. Semoga kebaikan ukhty dibalas Allah dengan pahala yang berlipat ganda. Kalau ada award lagi, jangan sungkan-sungkan untuk mempertimbangkan Dan Azed sebagai salah satu kandidat (ngarep).

Award ini harus ditularkan ke blog lain. Nah, blog yang cocok untuk ditulari award ini aaaadalaaaahhh:
1. Priska Natalia, teman SMA yang sangat menginspirasi. Bangga bisa mengenal Ika. Tetap semangat ya Ka, semoga selalu menginspirasi. Sstt...semoga impian no 19-22 nya tercapai, agar kota kecil kita nan indah punya dokter-dokter hebat seperti Ika dan kawan-kawan di FSKI.
2. Jilan Al Rasyid, sosok kakak yang juga selalu menginspirasi. Selamat wisuda kak... Semoga sukses di universitas kehidupan dan semoga tetap istiqomah. Doakan adikmu ini cepat menyusul ya kak... ;)
3. Dhia Ulhaq, teman yang pintar. Ditunggu juga kontribusinya di dunia kedokteran Islam di kampung kita, teman. Semoga bisa menjadi dokter yang baik.
4. Ibnu Syahri Ramadhan, teman sesama wartawan kampus yang pernah ikut Pelatihan Keterampilan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional di Persma-ku. Saat itu aku masih anggota baru, "nenek"ku yang jadi ketua pelaksananya. "Nenek"ku memang hebat (berharap cucunya juga).
5. Qalbi Salim, "bapak"ku di Persma. Terima kasih atas ilmunya pak. Semoga ilmu "nenek", "bapak", aku dan "anak"ku bisa berguna di masa depan, Amien...
6. Muflih Fathoniawan, teman dunia maya yang punya blog bagus. Kunjungan pertama ke blog ini saat selesai berkunjung ke blognya Mas Danang, sang Pembuat Jejak. Semoga mimpi-mimpimu tercapai, kawan.
7. Sebenarnya masih banyak teman-teman yang berhak tertular terima kasih award ini dari Dan Azed, terutama teman-teman yang ada di link lokerklasik, tapi sepertinya teman-teman juga sudah menerima award ini dari yang lain. Jadi, walaupun namanya tak tertulis di sini. Syukron Jazakillah sudah menginspirasiku dengan blog dan tulisan-tulisanmu teman...
Okehhh... itu dia kandidat yang tertular. Semoga semakin semangat blogging dan semakin semangat menulis. Kata Ali bin Abi Thalib, ikatlah ilmu dengan menuliskannya. Selain itu, kebaikan dan ilmu yang bermanfaat yang dibagi pada orang lain bisa jadi multi level pahala yang nggak bakalan putus, insya Allah...

Senin, 14 Februari 2011

Renungan Calon Petani Berjaya


Judul asli: Merenung di pematang sawah yang telah kucangkuli seminggu ini...

Keterangan singkat :) ... Catatan ini kutulis di malam terakhir ujian semesterku di semester 7. Langsung kutulis di akun "bukumuka" dengan mentag teman-teman... Alhamdulillah banyak yang suka dan termotivasi...

Kuawali kisah ini dalam statusku 3 Januari 2011.

"kata guruku di sekolah dulu, energi yang dipakai untuk ujian itu sama dengan energi yang dipakai petani tuk mencangkul di sawah. Hari ini ada 2 ujian, berarti dua petak sawah kucangkuli, tapi satunya take home exam, berarti energinya sama dengan menjemur benih di halaman rumah. hmm... ^_* "


Hari itu adalah hari pertamaku mencangkul sawah, prosesnya tak begitu susah karena untuk sawah yang ini aku tak perlu menyiapkan energi yang terlalu besar. Asal ada hasrat untuk mengayunkan cangkul, sawah yang ini akan menghasilkan padi yang sempurna dimasa panen nanti.


Sayangnya, semakin hari sawah yang harus kucangkuli semakin keras saja tanahnya. Ditambah lagi dengan banyaknya godaan yang membuatku malas mengasah mata cangkulku. Hasilnya, di hari ketiga, ini dia rangkaian kalimat yang mengisi space statusku, Rabu 5 Januari 2011.

"Garapan sawah hari ini kurang baik. Selain karna memang tanahnya keras, cangkulku juga kurang tajam. Tapi, teteup...Harapan itu akan selalu ada. Semoga hasil panennya tetap memuaskan, Amien.."

Status itu benar-benar menggambarkan karakter asliku, damai dengan keadaan, hadapi dengan senyuman, dan dengan penuh keyakinan aku percaya, harapan itu selalu ada.


Hari ini, kamis 6 januari 2011, usahaku mencangkuli sawah terakhir benar-benar parah. Aku tahu, petak sawah yang ini adalah petak sawah yang sangat penting untuk masa depanku menjadi petani berjaya, tapi aku tak pernah mau tahu dengan cangkulku yang benar-benar sudah tumpul matanya. Selain itu aku juga lupa, sawah ini akan menguras banyak energiku yang mulai tak berdaya. Begitu banyak batu yang harus kuhindari saat mencangkul sawah ini. Dengan cangkul yang tumpul dan energi yang tak mengepul, kuayunkan cangkulku dengan terpaksa.


Sayang sekali, ayunan cangkulku mengenai sebuah batu. Ya Allah, cangkulku patah, memantul melukai wajahku. Untunglah, tak mengenai mata dan bibirku. Sehingga, Alhamdulillah aku masih bisa menatap dunia lewat jendela, dan tersenyum padanya. Aku tak langsung pulang ke rumah, kusempatkan diri untuk merenung di pematangnya sembari melihat rekan-rekan seperjuanganku mencangkuli sawah mereka.


Dalam renunganku, aku sesali kelalaianku yang tak perhatian pada cangkulku. Hanya saja, satu hal selalu menggerogoti pikiranku, kapankah sebuah penyesalan itu akan memberi semangat baru untukku? Orang bilang, menyesal kemudian tidak berguna. Bagiku, menyesal tanpa berubah, buang-buang waktu saja. Lalu, karna tak yakinnya aku dengan hasrat untuk berubah, aku pilih untuk tidak menyesal saja. Lets gone be by gone, yang lalu biarlah berlalu. Kucoba menghibur diri dengan pepatah itu tetapi kali ini pepatah itu tak bekerja. Suasana hatiku tetap merana. Merana karena luka di wajahku yang tak begitu indah dan merana memikirkan hasil panen sawah yang begitu berharga ini.


Sawah ini kawan, hasil panennya kan menentukan masa depanku dalam meraih cita tuk menjadi petani berjaya. Sempurnanya panenan sawah yang satu ini akan membuatku mantap untuk terus maju meraih cita. Keberhasilan hasil panen sawah ini juga kan memberiku peluang untuk mendapatkan sawah yang lebih besar untuk 6 bulan berikutnya. Ya Rahmaan... baguskanlah hasil panenku dimusim ini, Amien...


Dalam renunganku, tak kuat rasanya membendung air mata. Ingin sekali kutumpahkan suasana hati ini pada para sahabat di sana. Sayang, mereka juga harus berusaha mencangkul petak sawah yang mereka punya. Aku tak mungkin mengganggu waktu mereka yang berharga. Biarlah, kusimpan sedih di dalam hati, kubungkus duka di dalam jiwa.


Dalam perjalanan pulang, rerumputan membantuku menghilangkan lara. Ia katakan padaku, harapan itu selalu ada. Aku kembali sadar, aku tak hanya punya satu cita. Citaku tak hanya ingin menjadi petani berjaya. Aku punya segudang cita untuk ikut merenovasi dunia. Ku kan tetap berdoa dan tawakal agar tercapainya citaku menjadi petani berjaya, dan ku akan berusaha menggapai mimpi-mimpi selanjutnya dan mulai berkarya.


Setiba di rumah, kuputuskan untuk pergi ke kota untuk mengunjungi toko buku ternama. Kebetulan ada dua sahabat yang telah selesai menggarap sawah mereka, kami ke kota bersama. Kunjungan ini adalah bentuk rasa syukurku karna masih bisa memandang dunia lewat jendelanya dan sebagai cara tuk menyapu bersih jejak duka yang masih tersisa.


Subhanallah, Allah Maha Bijaksana. Di salah satu toko buku ternama, potongan harga sedang marak-maraknya. Tak kusia-siakan kesempatan ini. Aku ambil semua jendela dunia yang akan menerangi jalanku untuk menggapai mimpi selanjutnya.


Semoga semua mimpi dan cita-citaku bisa terwujud menjadi nyata,begitu juga denganmu kawan. Semoga kita semua sukses di dunia dan di kampung akhirat sana, Amien Ya Rabbal Alamin...

Innallaha ma'ana, sesungguhnya Allah selalu bersama kita.


Kawan, terima kasih sudah sudi membaca catatanku yang tak indah dan tak tertata ini. Aku bukan penulis ternama, tapi tak ada salahnya kan, membaca curahan hati seorang teman yang sedang merana? Jika kawan suka, terimakasih yang sebesar-besarnya. Jika kawan bersedia, aku menunggu kritik dan sarannya.


Salam ukhuwah berbalut cinta.


Yaumul Jumu'ah, 7 Januari 2011.

3. 48 am di wismaku tercinta.


Selasa, 04 Januari 2011

bunuh M A L A S

Sudah lama sekali aku mulai menulis diary. Dulunya, mungkin masih sering merangkai kata yang tak seindah karya para pujangga. Sekarang, baik di diary maupun di sini, tidak ada lagi terungkai kata-kata yang berasal dari relung jiwa itu. Semua hal mempunyai akibat. Akibat dari tidak tersampaikannya unek-unek dan perasaan di dalam hati mungkin salah satunya adalah jerawat. Kata orang jerawat itu ada karena cinta terpendam. Kataku, jerawat ada karena isi hati yang terpendam. Isi hati itu tidak hanya berbentuk cinta, tapi juga ada marah, benci, suka, gembira, sedih, dan merana. Aku tahu pasti kenapa tidak ada lagi karya hati yang sempat kutuliskan. Tentu saja jawabannya Cuma 5 huruf. Bukan C I N T A tapi M A L A S. 

Malas, kata yang tak mungkin kuingkari keberadaannya yang masih selalu bersemayam di benakku. Walau sudah tak separah dulu lagi, tapi aku sadar aku masih berhubungan dengan kata berhuruf 5 itu. Sayang, aku sadar tapi aku tidak segera bangun dan bangkit meninggalkan kata itu. Padahal aku juga tahu pasti kata itu adalah inti dari semua permasalahan hidupku. Kata itu membuatku membuang-buang waktuku yang cukup banyak yang seharusnya aku isi dengan segala hal yang bermanfaat untuk akhirat dan duniaku. Kata itu juga membuatku menyia-nyiakan segala kesempatan yang datang menawariku segala kebaikan yang dapat aku petik untuk kehidupanku. Tapi aku berharap, aku bisa membunuh kata itu dan melahirkan serta membesarkan kesuksesan untuk kehidupanku di kampung akhirat dan di dunia yang fana ini.

Yaa Rabb… bantu hamba untuk bisa mengikuti jejak rasul dan para sahabat menjadi orang yang bertakwa kepadamu dan mengisi hari mereka dengan hal berguna, dan akhirnya izinkan hamba berkumpul dengan mereka di surga abadi nanti. Amien ya Rabb………