Minggu, 15 April 2012
Is there a Devil Lying Beside Us?
Selasa, 10 Januari 2012
Having a Golden Time???
![]() | |
|
![]() | |
|
Another example, (I have said that I’d like to make this writing a little longer, right?), when we are waiting for a bus or are in the bus, unexpectedly we get ideas to write. Well, it is the golden time. We should appreciate that time. Really. Trust me it’s work. Ups,I mean, it is very precious.
![]() |
| image source: google image |
well, lets get ready for up coming golden time, guys...
d(^_^)b
Rabu, 20 April 2011
Resensi Emak ingin naik haji
Judul : Emak ingin naik haji
Penulis : Asma Nadia
Penerbit : AsmaNadia Publishing House
Cetakan : Pertama, Agustus 2009
Tebal : 192 halaman
Harga : Rp. 40.000,-
Haji yang merupakan rukun Islam kelima merupakan impian bagi setiap muslim. Sayangnya kunjungan ke baitullah dalam perjalanan religius dengan menanggalkan status sosial dalam masyarakat dan berbaur dengan muslim sedunia dengan pakaian ihram yang sama-sama berwarna putih bersih itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dengan keadaan ekonomi Indonesia yang morat-marit, umat muslim bekerja keras untuk menunaikan panggilan Sang Maha Kuasa ini.
Pengelolaan haji di Indonesia yang ditangani oleh departemen agama tidak selalu mulus seperti yang diberitakan. Kesempatan naik haji bagi yang berstatus ekonomi menengah ke bawah dihadapkan dengan fenomena antrian waktu keberangkatan saking banyaknya umat Islam yang ingin naik haji di negeri ini. Sedangkan bagi yang berkecukupan, dapat melaksanakan haji setiap tahunnya. Hal ini mengundang tanda tanya atas kinerja pengelola haji.
Lain lagi dengan fasilitas yang ditawarkan pengelola haji. Ada tarif naik haji dengan pelayanan yang biasa saja ada yang dengan tarif yang sangat mahal dan fasilitas yang luar biasa.
Cerpen ‘emak ingin naik haji’ merupakan cerpen kritik sosial yang sangat kuat dan relevan, khususnya di tengah situasi dan kondisi bangsa Indonesia yang sudah satu dasawarsa lebih terpuruk namun tiap tahun kita menyaksikan betapa banyak orang yang sudah berhaji masih juga berlomba-lomba untuk memuaskan ambisinya untuk kembali menunaikan ibadah haji.
Inilah yang dikritik keras oleh Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Prof. Dr. KH Mutafa Ali Ya’qub sebagai haji setan atau haji provokator. Yaitu muslim-muslim kaya di negeri ini yang lebih senang mengoleksi gelar haji di kepalanya daripada menancapkan akhlak seorang haji. Haji seperti itu sungguh jauh dari sunnah rasulullah SAW.
Cerpen ini juga menggambarkan bagaimana seorang anak membalas jasa ibu dengan melakukan apapun untuk membantu ibunya untuk meraih impian naik haji.
(Sedianya bakal ditulis untuk Ganto, tapi sayang tak kunjung selesai)
Pemimpin Merangkap Pelayan; Ahmadinejad
Misyafad va mitavonim; itu mungkin, dan bisa kita lakukan, ini adalah jargon yang diusung oleh Mahmoed Ahmadinejad sebelum dirinya terpilih menjadi presiden
Mahmoed Ahmadinejad lahir pada 28 Oktober 1956, di perkampungan Aradan, wilayah tertinggal yang berjarak 120km dari arah timur
Kiprah Ahmadinejad di bidang politik saat dirinya dipilih oleh Musthafa Muin, Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Tinggi dalam kabinet Rafsanjani sebagai penasehat pribadinya. Ia sering memberikan pertimbangan populis bagi sang menteri terutama dalam mengambil setiap kebijakan dan tindakan pemerintahan. Hal ini menjadikan Ahmadinejad sebagai sosok yang mempunyai prestasi di mata Presiden Hashemi Rafsanjani. Kemudian presiden menunjuk Ahmadinejad sebagai Bupati Ardabil. Setelah masa tugas sebagi bupati berakhir, Ahmadinejad kembali dipercaya untuk mengemban tugas sebagai Walikota Teheran. Berbagai persoalan social-budaya
Amanah sebagai walikota Teheran dilepaskan Ahmadinejad saat mempersiapkan diri mengikuti pemilihan presiden
Sejak terpilih menjadi presiden, rakyat
Ps: Pernah dimuat di buletin Rangkiang*
(*3 tahun yang lalu, hehe, sayang kalau hanya mendekam di dokumenku. Kabar terakhir dari seorang ustadz, Ahmadinejad adalah orang syiah. (Wallahu'alam) Saat ini benar-benar nggak update lagi tentang sosok ini)
Sabtu, 16 April 2011
Mahasiswa dan Playstation
Sekarang, mahasiswa masih dianggap sebagai agen perubahan tetapi tidak lagi dengan semangat seperti senior-senior dulunya. Hanya segelintir saja mahasiswa yang peduli dengan keadaan bangsa ini. Yang lainnya kemana? Mereka juga sibuk. Sibuk dengan segala macam permainan yang ditawarkan benda keramat yang bernama play station.
Pertumbuhan rental play station di sekitar kampus semakin menjamur. Tentu saja. Pengusaha rental play station semakin berjaya karena banyaknya mahasiswa yang mengantri untuk mendapatkan giliran “berkencan” dengan play stationnya. Mulai dari pagi hingga dini hari, rental play station tidak akan pernah sepi. Ramai pengunjung yang 90 persennya adalah mahasiswa.
Mereka menghabiskan banyak waktu mereka untuk berperang dalam rental play station tetapi mereka tidak tahu segelintir rekan-rekannya berjuang melawan musuh-musuh nyata bangsa, koruptor misalnya. Mereka bersedia merusak mata mereka dengan terus-menerus menatap layar kaca tanpa pernah menggunakan nikmat tuhan itu untuk memperhatikan kondisi kampus dan negaranya. Mereka mampu merogoh kocek dalam-dalam untuk sekedar memenangkan permainan balap motor dengan berhayal sebagai Valentino Rossi tanpa sekalipun ikut menyumbangkan peluhnya dalam aksi-aksi segelintir rekan-rekannya dalam membangun bangsa.
Pandangan masyarakat kepada mahasiswa sebagai agen perubahan tidak akan berubah dengan adanya mahasiswa-mahasiswa pecandu game ini. Mahasiswa tetap akan menjadi agen perubahan. Hanya saja, bersediakah mereka menyandang nama sebagai mahasiswa tanpa tahu apa yang akan mereka rubah. Bersediakah mereka hanya menjadi mahasiswa tanpa gelar the agent of change. Tidakkah mereka menyayangkan waktu yang terbuang di rental play station itu padahal seharusnya mereka menyiapkan diri menjadi penerus bangsa. Hanya mahasiswa yang bersahabat dengan play station-lah yang bisa menjawabnya. * (Dan Azed)
(* Pernah dimuat di harian Singgalang Edisi Minggu, rubrik Critical U)
Selasa, 12 April 2011
Aktivis Dakwah bertanda kutip

Selasa, 08 Maret 2011
Award pertama
Senin, 14 Februari 2011
Renungan Calon Petani Berjaya

Judul asli: Merenung di pematang sawah yang telah kucangkuli seminggu ini...
Kuawali kisah ini dalam statusku 3 Januari 2011.
"kata guruku di sekolah dulu, energi yang dipakai untuk ujian itu sama dengan energi yang dipakai petani tuk mencangkul di sawah. Hari ini ada 2 ujian, berarti dua petak sawah kucangkuli, tapi satunya take home exam, berarti energinya sama dengan menjemur benih di halaman rumah. hmm... ^_* "
Hari itu adalah hari pertamaku mencangkul sawah, prosesnya tak begitu susah karena untuk sawah yang ini aku tak perlu menyiapkan energi yang terlalu besar. Asal ada hasrat untuk mengayunkan cangkul, sawah yang ini akan menghasilkan padi yang sempurna dimasa panen nanti.
Sayangnya, semakin hari sawah yang harus kucangkuli semakin keras saja tanahnya. Ditambah lagi dengan banyaknya godaan yang membuatku malas mengasah mata cangkulku. Hasilnya, di hari ketiga, ini dia rangkaian kalimat yang mengisi space statusku, Rabu 5 Januari 2011.
"Garapan sawah hari ini kurang baik. Selain karna memang tanahnya keras, cangkulku juga kurang tajam. Tapi, teteup...Harapan itu akan selalu ada. Semoga hasil panennya tetap memuaskan, Amien.."
Status itu benar-benar menggambarkan karakter asliku, damai dengan keadaan, hadapi dengan senyuman, dan dengan penuh keyakinan aku percaya, harapan itu selalu ada.
Hari ini, kamis 6 januari 2011, usahaku mencangkuli sawah terakhir benar-benar parah. Aku tahu, petak sawah yang ini adalah petak sawah yang sangat penting untuk masa depanku menjadi petani berjaya, tapi aku tak pernah mau tahu dengan cangkulku yang benar-benar sudah tumpul matanya. Selain itu aku juga lupa, sawah ini akan menguras banyak energiku yang mulai tak berdaya. Begitu banyak batu yang harus kuhindari saat mencangkul sawah ini. Dengan cangkul yang tumpul dan energi yang tak mengepul, kuayunkan cangkulku dengan terpaksa.
Sayang sekali, ayunan cangkulku mengenai sebuah batu. Ya Allah, cangkulku patah, memantul melukai wajahku. Untunglah, tak mengenai mata dan bibirku. Sehingga, Alhamdulillah aku masih bisa menatap dunia lewat jendela, dan tersenyum padanya. Aku tak langsung pulang ke rumah, kusempatkan diri untuk merenung di pematangnya sembari melihat rekan-rekan seperjuanganku mencangkuli sawah mereka.
Dalam renunganku, aku sesali kelalaianku yang tak perhatian pada cangkulku. Hanya saja, satu hal selalu menggerogoti pikiranku, kapankah sebuah penyesalan itu akan memberi semangat baru untukku? Orang bilang, menyesal kemudian tidak berguna. Bagiku, menyesal tanpa berubah, buang-buang waktu saja. Lalu, karna tak yakinnya aku dengan hasrat untuk berubah, aku pilih untuk tidak menyesal saja. Lets gone be by gone, yang lalu biarlah berlalu. Kucoba menghibur diri dengan pepatah itu tetapi kali ini pepatah itu tak bekerja. Suasana hatiku tetap merana. Merana karena luka di wajahku yang tak begitu indah dan merana memikirkan hasil panen sawah yang begitu berharga ini.
Sawah ini kawan, hasil panennya kan menentukan masa depanku dalam meraih cita tuk menjadi petani berjaya. Sempurnanya panenan sawah yang satu ini akan membuatku mantap untuk terus maju meraih cita. Keberhasilan hasil panen sawah ini juga kan memberiku peluang untuk mendapatkan sawah yang lebih besar untuk 6 bulan berikutnya. Ya Rahmaan... baguskanlah hasil panenku dimusim ini, Amien...
Dalam renunganku, tak kuat rasanya membendung air mata. Ingin sekali kutumpahkan suasana hati ini pada para sahabat di sana. Sayang, mereka juga harus berusaha mencangkul petak sawah yang mereka punya. Aku tak mungkin mengganggu waktu mereka yang berharga. Biarlah, kusimpan sedih di dalam hati, kubungkus duka di dalam jiwa.
Dalam perjalanan pulang, rerumputan membantuku menghilangkan lara. Ia katakan padaku, harapan itu selalu ada. Aku kembali sadar, aku tak hanya punya satu cita. Citaku tak hanya ingin menjadi petani berjaya. Aku punya segudang cita untuk ikut merenovasi dunia. Ku kan tetap berdoa dan tawakal agar tercapainya citaku menjadi petani berjaya, dan ku akan berusaha menggapai mimpi-mimpi selanjutnya dan mulai berkarya.
Setiba di rumah, kuputuskan untuk pergi ke kota untuk mengunjungi toko buku ternama. Kebetulan ada dua sahabat yang telah selesai menggarap sawah mereka, kami ke kota bersama. Kunjungan ini adalah bentuk rasa syukurku karna masih bisa memandang dunia lewat jendelanya dan sebagai cara tuk menyapu bersih jejak duka yang masih tersisa.
Subhanallah, Allah Maha Bijaksana. Di salah satu toko buku ternama, potongan harga sedang marak-maraknya. Tak kusia-siakan kesempatan ini. Aku ambil semua jendela dunia yang akan menerangi jalanku untuk menggapai mimpi selanjutnya.
Semoga semua mimpi dan cita-citaku bisa terwujud menjadi nyata,begitu juga denganmu kawan. Semoga kita semua sukses di dunia dan di kampung akhirat sana, Amien Ya Rabbal Alamin...
Innallaha ma'ana, sesungguhnya Allah selalu bersama kita.
Kawan, terima kasih sudah sudi membaca catatanku yang tak indah dan tak tertata ini. Aku bukan penulis ternama, tapi tak ada salahnya kan, membaca curahan hati seorang teman yang sedang merana? Jika kawan suka, terimakasih yang sebesar-besarnya. Jika kawan bersedia, aku menunggu kritik dan sarannya.
Salam ukhuwah berbalut cinta.
Yaumul Jumu'ah, 7 Januari 2011.
3. 48 am di wismaku tercinta.
Selasa, 04 Januari 2011
bunuh M A L A S
Malas, kata yang tak mungkin kuingkari keberadaannya yang masih selalu bersemayam di benakku. Walau sudah tak separah dulu lagi, tapi aku sadar aku masih berhubungan dengan kata berhuruf 5 itu. Sayang, aku sadar tapi aku tidak segera bangun dan bangkit meninggalkan kata itu. Padahal aku juga tahu pasti kata itu adalah inti dari semua permasalahan hidupku. Kata itu membuatku membuang-buang waktuku yang cukup banyak yang seharusnya aku isi dengan segala hal yang bermanfaat untuk akhirat dan duniaku. Kata itu juga membuatku menyia-nyiakan segala kesempatan yang datang menawariku segala kebaikan yang dapat aku petik untuk kehidupanku. Tapi aku berharap, aku bisa membunuh kata itu dan melahirkan serta membesarkan kesuksesan untuk kehidupanku di kampung akhirat dan di dunia yang fana ini.
Yaa Rabb… bantu hamba untuk bisa mengikuti jejak rasul dan para sahabat menjadi orang yang bertakwa kepadamu dan mengisi hari mereka dengan hal berguna, dan akhirnya izinkan hamba berkumpul dengan mereka di surga abadi nanti. Amien ya Rabb………



