Jumat, 11 Februari 2011

Birrul walidain

Awalnya, liburan ini akan aku isi dengan birrul walidain plus, plus... Yup, berbakti kepada kedua orang tua. Sekarang, liburan panjang akhir semester 7 ini akan berakhir, dan aku sangsi dengan keberhasilan tujuan awalku itu. Aku bukan anak yang baik, padahal orang tuaku adalah orang tua nomor satu dan juara umum di seluruh dunia, mengalahkan posisi ayahnya Ikal di Laskar Pelangi.

Hari ini, atau tepatnya kemaren karena aku menulis ini pada pukul 1.20 am tanggal 12 Februari 2011, Mama memberiku tugas mengetik naskah pidato untuk siswanya. Deg... judul pidatonya sangat cocok dengan apa yang sedang mengganggu pikiranku, Berbuat baik kepada kedua orang tua dan Hormat kepada kedua orang tua. Meskipun naskahnya begitu sederhana, maklum... naskah ini untuk pildacil, tapi sangat mengena dan bermakna.

Ini dia naskahnya;

Berbuat baik kepada orang tua

· Setiap manusia harus menyadari bahwa keberadaanya di atas dunia ini disebabkan karena adanya orangtua. Hanya yang tidak mempunyai orang tua adalah nenek kita nabi Adam dan Siti Hawa. Sedangkan nabi Isa memang tidak memiliki ayah namun memiliki ibu yang bernama Maryam.

· Tidak dapat kita pungkiri bahwa orang tua kita telah berusaha sekuat tenaga dan mencurahkan segala daya upaya untuk memelihara dan mendidik putra-putrinya agar kelak menjadi manusia yang berguna bagi bangsa, Negara dan agama.

· Cobalah kita bayangkan bagaimana perjuangan orang tua dalam melaksanakan tanggung jawabnya. Seperti ibu kita, yang telah mengandung, melahirkan, dan menyusui, serta memelihara kita siang dan malam tanpa mengenal letih dan lelah dan selalu mengalah agar keinginan anaknya terpenuhi.

· Demikian juga sang ayah yang bekerja membanting tulang di berbagai lapangan kehidupan. Seperti di kantor, di pasar, di jalan raya, di sawah, dan di lading yang kadang-kadang menghadang panasnya terik matahari atau hujan lebat yang turun dari langit.

· Berdasarkan hal yang demikian agama Islam mewajibkan kita untuk berbuat baik kepada kedua orang tua kita sebagaimana firman Allah yang terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 83 yang berbunyi

وَ إِذْ أَخَذْنَا مِيْثَاقَ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ لاَ تَعْبُدُوْنَ إِلاَّ اللهَ وَ بِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً

Artinya:

Kamu sekalian tidak dibenarkan beribadah selain kepada Allah dan terhadap kedua orang tua hendaklah selalu berbuat baik.

· Berbuat baik kepada orang tua antara lain adalah bagaimana kita berusaha untuk menyenangkan hati ibu bapak kita dan menjauhi segala perbuatan yang tidak mereka sukai. Kemudian selalu mendoakannya agar rahmat dan kasih sayang Allah senantiasa tercurah kepada orang tua sebagaimana doa yang telah diajarkan oleh guru-guru kita.

doa6.jpg

Ya Allah, ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku. Sayangilah mereka keduanya sebagaimana mereka mendidikku di waktu kecil.

· Seandainya ada diantara kita orang yang durhaka pada orang tua kita, sudah jelas akan mengundang kemarahan Allah, di dunia kita akan hidup sengsara, di alam barzah akan menderita, dan diakhirat nanti kita akan merasakan siksaan azab neraka.

· Sudah banyak contoh yang diceritakan ibu guru kita bagaimana nasibnya orang yang durhaka pada orang tua, seperti AlQamah yang mengalami kesakitan yangtak tertahankan sewaktu akan menghadapi kematiaanya. Begitu juga Malin kundang disebabkan durhaka kepada ibunya, akhirnya dia berubah menjadi batu.

· Dari uraian pidato pendek ini dapatlah disimpulkan bahwa seorang anak wajib berbuat baik kepada orangtuanya dan berdosa besar apabila ada yang durhaka.

· Akhirnya saya mengajak kepada kita semua, marilah kita menjadi anak yang shaleh, taat beribadah kepada Allah, dan selalu berbuat baik kepada kedua orang tua kita.

dan;


Hormat kepada kedua orang tua

· Setiap kita yang hadir pasti mempunyai orang tua yaitu ayah dan ibu. Naum, ada orang tua kita yang masih hidup dan ada pula yang telah meninggal dunia.

· Maka dari itu hendaklah setiap kita menyadari bahwa orangtua telah berusaha sekuat tenaga untuk memelihara, mendidik dan membesarkan kita.

· Bagaimanapun seorang anak membalas jasa orang tuanya, pasti tidak akan terbalas karena begitu banyak pengorbanan yang telah diberikan orang tua semenjak seorang anak berada dalam kandungan ibunya.

· Oleh karena itu, sangat pantas bagi kita untuk senantiasa menghormati kedua orang tua kita dan selalu berbuat baik kepada keduanya sebagaimana firman Allah yang terdapat dalam Al-Qur’an surat Al-baqarah ayat 83:

وَ إِذْ أَخَذْنَا مِيْثَاقَ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ لاَ تَعْبُدُوْنَ إِلاَّ اللهَ وَ بِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً

Artinya,

Dan tuhanmu telah memerintahkan agar kamu tidak beribadah kecuali hanya kepadanya dan terhadap kedua orang tua hendaklah kamu berbuat baik.

· Apabila seseorang durhaka kepada kedua orang tuanya, tentu saja akan membuat Allah marah kepadanya dan membuat sengsara dalam kehidupan dunia serta mendapat siksa di akhirat nanti.

· Untuk menghormati orang tua hendaklah kita selalu menyenangkan hatinya seperti berkata lembut, melaksanakan seruannya dengan segera, turut menyelenggarakan jenazahnya jika orangtua kita meninggal dunia.

· Dalam kesempatan yang berharga ini saya mengajak rekan-rekan untuk menjadikan diri kita menjadi anak yang shaleh yang selalu mendoakan orangtua karena doa anak yang shaleh akan dikabulkan Allah SWT.

Diantara doa yang senantiasa kita ucapkan adalah

doa6.jpg

Wahai tuhanku, ampunilah dosa-dosaku dan dosa-dosa kedua orang tuaku, sayangilah keduanya sebagaimana keduanya telah mendidikku sewaktu kecil.

· Jangan ada secercah niatpun diantara kita untuk menyakiti hati dan jasmani orangtua kita apalgi membunuh salah satu atau keduanya karena perbuatan semacam itu akan mengakibatkan kita masuk neraka.

· Apabila dalam perjalanan hidup kita pernah mendurhakai orang tua seperti berkata kasar, bersikap angkuh, dan memandang enteng setiap suruhannya, maka cepat-cepatlah kita minta maaf kepada orang tua kita, dan mohonlah selalu doa dan keridhaan agar kita selamat di dunia dan akhirat, karena ridho allah itu terletak pada ridho kedua orang tua.

Semoga bermanfaat...

Minggu, 16 Januari 2011

Sayangi waktu


Waktu

Adil tuhan menganugerahkannya

Sama kita menerimanya

Berbeda penggunaannya

Aku kesini

Kamu kesana

Kamu kesini

Aku belum kesana

Lho, kenapa?

Waktu kita, bukannya sama?

Adakah kamu dapat lebih?

Kamu dapat dari mana?

Kenapa bisa kesana?

Kapan?

Aku…kapan?

Kamu sudah kesana lagi

Aku, masih disini

Bagaimana ini?

Kenapa seperti ini?

Mengapa?


Karna aku tak menyayangi waktuku..

Selasa, 04 Januari 2011

Belum Cukupkah Dua Puluh Tahun?

Renungan bertambahnya umur yang kutulis setahun yang lalu.

Belum cukupkah dua puluh tahun? Itu adalah pertanyaan yang akan segera menjadi penghias di dinding kamar ataupun di halaman-halaman buku agendaku. Sebuah pertanyaan yang sangat bermakna, bagiku. Saat ini dalam pikiranku, pertanyaan itu akan membangkitkan semangatku untuk terus bergerak tanpa ada lagi kata yang bernama malas. Semoga saja apa yang aku pikirkan ini benar-benar dapat terwujudkan dan tidak hanya jadi angan belaka.

Setiap orang punya kalimat atau quote yang berarti bagi dirinya, baik untuk penyemangat maupun untuk sekedar penyejuk hati. Dimulai dari orang sukses sampai kepada seorang siswa yang baru akan beranjak menjadi orang sukses. Dimulai dari kata-kata yang bermakna bagi dunia sampai kepada kata-kata yang mengandung makna cinta, tentu saja mengandung kalimat yang romantis. Misalnya saja bung Karno. Di dinding kamarnya ditulis “ berikan padaku 10 orang pemuda maka aku akan mendirikan sebuah bangsa” lebih kurang seprti itu karna aku lupa redaksi sebenarnya. Begitu juga dengan salah seorang temanku yang selalu menjadi jawara semasa MTsN dulu. Ia menuliskan kalimat penyemangatnya di facebook miliknya. Aku juga lupa susunan kalimat sebenarnya, hanya saja kalau tidak salah, maknanya adalah dia akan menjadi agen perubahan bagi bangsa ini meski seorang diri. Hari ini, temanku itu merupakan seorang mahasiswa dari perguruan tinggi ternama di tanah jawa, Universitas Gadjah Mada.

Belum cukupkah dua puluh tahun?

Sekarang saatnya bagiku untuk menjadi salah seorang mahasiswa yang akan menjadi agen perubahan bagi bangsa ku tercinta, Indonesia. Telah cukup dua puluh tahun aku menghabiskan umurku untuk sekedar menikmati hidup yang penuh dengan kemalasan. Telah cukup bagiku dua puluh tahun dalam umurku yang aku tidak tahu berapa tahun untuk sekedar berleha-leha menikmati dunia. Semena-mena menikmati umur, begitu kata Ryan, temanku di sastra inggris. Telah aku habiskan umurku dua puluh tahun untuk bermimpi dalam setiap tidurku yang panjang, setiap waktu setiap saat tanpa ada yang dapat aku hasilkan dari semua mimpi yang kadang indah kadang tidak itu. Telah aku habiskan waktuku selama dua puluh tahun untuk sekedar berangan-angan yang terkadang indah jika dituliskan menjadi sebuah cerpen atau novel tanpa ada satupun yang berhasil aku tuliskan. Telah cukup dua puluh tahun aku menjadi majikan bagi diriku sendiri, cita-citaku dan orang tuaku. Ya, aku melakukan apa yang aku mau bukan apa yang seharusnya aku lakukan. Tentu saja hal- hal yang aku lakukan itu hal-hal yang tidak ada hasilnya, padahal aku tahu aku bisa lakukan apa saja yang bermakna jika aku mau melakukannya.

Sekarang saatnya bagiku untuk menjadi budak bagi diriku sendiri. sekarang saatnya bagiku untuk mengabdikan diri pada kebenaran, bukan kemalasan. Sekarang saatnya bagiku untuk bangkit berdiri dan mau melakukan semua hal bermakna yang tentu saja aku bisa membuatnya lebih bermakna. Sekarang saatnya bagiku untuk bangun dari tidur panjangku dan mulai merajut mimpi yang selama ini ada menjadi nyata. Sekarang saatnya aku mulai menuliskan cerita dalam anganku yang selama ini tak berharga menjadi sebuah karya sastra. Sekarang saatnya aku mulai melahirkan mimpi-mimpi yang selama ini dikandung oleh agenda-agenda dan diaryku. Sekarang saatnya aku mengejar ketertinggalanku dan mendahului sahabat dan teman-temanku. Sekarang saatnya bagiku untuk berdiri dan bersiap untuk berlari mengejar garis finish, kehidupan masa depanku yan cerah secerah cahaya mentari di ufuk timur jendela kamarku.

Sekarang saatnya aku berkata, aku bisa!!!

bunuh M A L A S

Sudah lama sekali aku mulai menulis diary. Dulunya, mungkin masih sering merangkai kata yang tak seindah karya para pujangga. Sekarang, baik di diary maupun di sini, tidak ada lagi terungkai kata-kata yang berasal dari relung jiwa itu. Semua hal mempunyai akibat. Akibat dari tidak tersampaikannya unek-unek dan perasaan di dalam hati mungkin salah satunya adalah jerawat. Kata orang jerawat itu ada karena cinta terpendam. Kataku, jerawat ada karena isi hati yang terpendam. Isi hati itu tidak hanya berbentuk cinta, tapi juga ada marah, benci, suka, gembira, sedih, dan merana. Aku tahu pasti kenapa tidak ada lagi karya hati yang sempat kutuliskan. Tentu saja jawabannya Cuma 5 huruf. Bukan C I N T A tapi M A L A S. 

Malas, kata yang tak mungkin kuingkari keberadaannya yang masih selalu bersemayam di benakku. Walau sudah tak separah dulu lagi, tapi aku sadar aku masih berhubungan dengan kata berhuruf 5 itu. Sayang, aku sadar tapi aku tidak segera bangun dan bangkit meninggalkan kata itu. Padahal aku juga tahu pasti kata itu adalah inti dari semua permasalahan hidupku. Kata itu membuatku membuang-buang waktuku yang cukup banyak yang seharusnya aku isi dengan segala hal yang bermanfaat untuk akhirat dan duniaku. Kata itu juga membuatku menyia-nyiakan segala kesempatan yang datang menawariku segala kebaikan yang dapat aku petik untuk kehidupanku. Tapi aku berharap, aku bisa membunuh kata itu dan melahirkan serta membesarkan kesuksesan untuk kehidupanku di kampung akhirat dan di dunia yang fana ini.

Yaa Rabb… bantu hamba untuk bisa mengikuti jejak rasul dan para sahabat menjadi orang yang bertakwa kepadamu dan mengisi hari mereka dengan hal berguna, dan akhirnya izinkan hamba berkumpul dengan mereka di surga abadi nanti. Amien ya Rabb………

Selasa, 14 Desember 2010

Maafkan aku sahabat

Dalam sebuah jejaring sosial aku pernah menuliskan tentang kata mutiara yang disampaikan Ali bin Abi Thalib yang berhubungan dengan persahabatan. setelah aku publish kata-kata itu, sepupuku menanyakan, "lai baterapkan re piak?". huft, saat ini rasanya aku sadar, aku tidak menerapkan petuah dari sahabat rasul tersebut. aku bukan pencari sahabat yang baik, dan juga bukan orang yang mempertahankan persahabatan dengan baik.

Aku tidak pernah menjadi sahabat yang baik bagi sahabatku, bahkan mungkin aku tak menganggap mereka sebagai sahabat. akhirnya, setelah mereka jauh, aku baru bisa merasakan bahwa aku kehilangan mereka. disaat itulah aku menyadari bahwa mereka adalah sahabatku, dan aku telah menyia-nyiakan persahabatan kami.

Sebenarnya, hal yang ingin kusampaikan lebih mengharukan daripada hanya sekedar tulisan di atas, tapi entahlah, mungkin aku memang belum mahir dalam menulis. aku harus melatihnya, jadi bagi kamu yang membacanya, nikmatilah tulisanku ini, dan tunggulah semoga aku bisa menulis yang lebih bagus. sehingga apa yang aku ingin sampaikan bisa tercapai.

BTW, kata mutiara dari Ali bin Abi Thalib tersebut adalah Selemah-lemah manusia ialah orang yg tak boleh mencari sahabat dan orang yang lebih lemah dari itu ialah orang yg mensia-siakan sahabat yg telah dicari.